MONITORING DAN EVALUASI IMPLEMENTASI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL (SPMI)






MONITORING DAN EVALUASI
IMPLEMENTASI
SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL (SPMI)
TAHAP II
PADA SMP NEGERI 2 SUKARATU
SEBAGAI SEKOLAH IMBAS

Waktu Pelaksanaan Monev
:
Rabu, Tanggal 25 September 2018
Tempat Pelaksanaan Monev
:
SMP Negeri 2 Sukaratu
Petugas Monitoring dan Evaluasi
:
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat

A.   Latar Belakang

Sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan penjaminan mutu pendidikan di satuan pendidikan dasar dan menengah. Tujuan penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah adalah untuk memastikan penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah oleh satuan pendidikan di Indonesia berjalan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
Sistem Penjaminan Mutu yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdiri atas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). SPMI dilaksanakan oleh satuan pendidikan, sedangkan SPME dilaksanakan oleh institusi di luar satuan pendidikan seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Standar Nasional Pendidikan, dan Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah.
Adanya dukungan dan fasilitasi institusi-institusi tersebut dalam penerapan sistem penjaminan mutu eksternal sesuai tugas dan kewenangannya akan memperkuat upaya satuan pendidikan dalam memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
Secara nasional, mutu pendidikan dasar dan menengah di Indonesia belum seperti yang diharapkan. Hasil pemetaan mutu pendidikan secara nasional pada tahun 2014 menunjukkan hanya sekitar 16% satuan pendidikan yang memenuhi standar nasional pendidikan (SNP). Sebagian besar satuan pendidikan belum memenuhi SNP, bahkan ada satuan pendidikan yang masih belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).
Standar kualitas pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah berbeda dengan standar yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan. Standar yang digunakan oleh sebagian besar sekolah jauh di bawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Akibatnya, kualitas lulusan yang dihasilkan oleh satuan pendidikan belum memenuhi standar yang diharapkan. Kesenjangan antara hasil ujian nasional dengan hasil ujian sekolah yang lebar menunjukkan bahwa ada permasalahan dalam instrumen dan metode pengukuran hasil belajar siswa.
Masih banyak pengelola pendidikan yang tidak tahu makna standar mutu pendidikan.Selain itu, sebagian besar satuan pendidikan belum memiliki kemampuan untuk menjamin bahwa proses pendidikan yang dijalankan dapat memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh pemerintah. Kemampuan itu meliputi:
1.       Cara melakukan penilaian hasil belajar
2.       Cara membuat perencanaan     peningkatan mutu pendidikan
3.       Cara implementasi peningkatan mutu    pendidikan
4.       Cara melakukan evaluasi pengelolaan sekolah maupun proses pembelajaran.
Upaya peningkatan mutu pendidikan ini tidak akan dapat diwujudkan tanpa ada upaya perbaikan dalam penyelenggaraan pendidikan menuju pendidikan bermutu. Untuk mewujudkan pendidikan bermutu ini, upaya membangun budaya mutu di satuan pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Satuan pendidikan harus mengimplemetasikan penjaminan mutu pendidikan tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selanjutnya sebagaimana diamanatkan di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005, setiap Satuan Pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan tersebut bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan.
Peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan ini merupakan tanggung jawab dari setiap komponen di satuan pendidikan. Peningkatan mutu di satuan pendidikan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya budaya mutu pada seluruh komponen sekolah. Untuk peningkatan mutu sekolah secara utuh dibutuhkan pendekatan khusus agar seluruh komponen sekolah bersama-sama memiliki budaya mutu. Untuk itu dibutuhkan program Implementasi Penjaminan Mutu Pendidikan di seluruh sekolah di Indonesia dengan pendekatan pelibatan seluruh komponen sekolah (whole school approach). Sebagai sekolah imbas  SPMI SMP Negeri Sukaratu diberi kewajiban yang dibebankan dalam wujud pelaksanaan yang tercakup dalam kegiatan siklus SPMI.

B.   Agenda Kegiatan

o  Memonitor dan mengevaluasi tentang implementasi (penerapan) Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)  dalam bentuk siklus SPMI yang terdiri dari:
1.     Pemetaan mutu
2.     Penyusunan Rencana Pemenuhan
3.     Pelaksanaan Rencana Pemenuhan
4.     Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Pemenuhan Mutu
5.     Penyusunan Strategi Peningkatan Mutu
o  Pemeriksaan secara acak
o  Wawacara yang dilakukan kepada ketua Tim Penjaminan Mutu Sekolah (TPMS )
o  Wawacara yang dilakukan kepada sekretaris  Tim Penjaminan Mutu Sekolah (TPMS)
o  Wawacara yang dilakukan kepada Kepala SMP Negeri 2 Sukaratu

C.   Kesimpulan dari Kegiatan Monitoring dan Evaluasi
o    Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah bertujuan menjamin pemenuhan standar pada satuan pendidikan dasar dan menengah secara sistematik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga tumbuh dan berkembang budaya mutu satuan pendidikan secara mandiri
o    SMP Negeri 2 Sukaratu sejak tahun 2017  telah ditetapkan sebagai sekolah imbas SPMI. Sejak tahun 2017 sampai dengan sekarang (2018) telah dan sedang menjalankan dan menerapkan Sistem Penjaminan Mutu Internal.

o    Dalam menjalankan dan menerapkan SPMI tidak terpaku pada kewajiban memenuhi tagihan sebagai sekolah imbas, yakni hanya terdiri dari (1) Standar Kompetensi Lulusan; (2) Standar Isi; (3) Standar Proses; dan (4) Standar Penilaian, dari masing-masing standar tersebut hanya dipilih satu atau dua indicator. Jadi sebetulnya harus secara holistic dan menyeluruh yakni 8 standar nasional pendidikan, dan terdiri dari semua indicator yang ada dalam setiap indicator.
o    Penerapan SPMI bersifat siklik dan berkelanjutan, hal ini tidak terbatas pada hanya pada kegiatan pendampingan.
o    SPMI merupakan sebuah system dan bukan sebuah program, seperti telah dijelaskan di atas sebagai sebuah system SPMI bersifat siklik (memakai siklus) dan berkelanjutan dan penerapan sama sekali tidak terlepas dari 8 Standar Nasional Pendidikan.

o    Seperti tertuang dalam konsep SPM (Sistem Penjaminan Mutu) PERMENDIKBUD NO 28 TAHUN 2016 ( Pasal 5, ayat 1)
1.     Memetakan mutu pendidikan pada tingkat satuan pendidikan berdasarkan SNP
2.     Membuat perencanaan peningkatan mutu yang dituangkan dalam rencana kerja sekolah
3.     Melaksanakan pemenuhan mutu dalam pengelolaan satuan pendidikan dan proses pembelajaran
4.     Melakukan monitoring dan evaluasi proses pelaksanaan pemenuhan mutu yang telah dilakukan
5.     Menyusun strategi peningkatan mutu berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi
o    Fungsi petugas Monev harus sangat berperan dalam pelaksanaan SPMI
Tugas monev diantaranya:
§  melakukan pengendalian terhadap proses pelaksanaan pemenuhan mutu yang telah dilakukan sesuai dengan perencanaan yang disusun untuk menjamin kepastian terjadinya peningkatan mutu yang berkelanjutan
§  Bagaimana Monitoring dan Evaluasi bekerja?







0 comments:

Melatih Daya Ingat


Melatih Daya Ingat
Oleh: Dadang Hudan Dardiri,S.Pd., M.Pd. *)
“Your brain is like a sleeping giant” (Otak anda adalah ibarat raksasa tertidur)
(Gordon Dryden dan Jeannette Vos melalui Tony Buzan)



Allah Yang Maha Kuasa menganugrahi manusia dengan perangkat yang amat berharga. Perangkat tersebut adalah otak, pada kenyataan yang dibekali otak tersebut bukan hanya manusia termasuk juga binatang, tetapi ternyata otak manusia memiliki banyak kelebihan dibanding dengan yang lainnya. Yang menunjukkan kelebihan otak manusia diantaranya seperti dijelaskan oleh Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos (2000), tentang perbandingan jumlah  sel otak manusia sebagai berikut:
1.       Lalat memiliki 100.000 sel otak;
2.       Tikus memiliki 5.000.000 sel otak;
3.       Kera memiliki 10.000.000.000 sel otak; dan
4.       Manusia memiliki 100.000.000.000 sel otak.
Dengan otak yang dimilikinya manusia mampu menciptakan, membangun pengetahuan dan membentuk kebudayaan (civilization sociaty). Betapa kemampuan yang dimiliki oleh otak kita, seperti dikatakan Tony Buzan melalui Gordon Dryden dan Jeannette Vos (2000) “Your brain is like a sleaping giant” (Otak anda adalah ibarat raksasa tertidur). Selanjutnya Herbert Benson melalui Taufiq Pasiak, (2002)  mengatakan bahwa otak adalah seorang seniman dan seorang akhli kimia, seorang akhli teknik. Ia bekerja terus menerus menyusun dan mengatur dirinya sendiri. Sehingga ia bukan saja tempat penyimpanan yang efektif di dunia, melainkan juga merupakan pencatat kejadian dan pengurus perpustakaan yang paling efektif, kecepatannya belum tertandingi oleh komputer manapun.
Dalam otak manusia tersimpan pola, suara, perhitungan dan berbagai dorongan (Jujun S. Suriasumantri mealalui Susanto, 2014). Kenangan manis dan pahit yang sudah berlangsung puluhan tahun yang lalu, harapan dan keinginan tentang  tentang kebahagiaan  yang sulit  untuk diraih, detak jantung yang tak menentu saat menatap seseorang yang diinginkan. Demikian juga untaian nada merdu petikan dawai kecapi, gambaran tentang raut wajah seseorang, aroma wangi bunga yang sedang merekah, indahanya goresan-goresan warna lukisan sang maestro, susunan dan jalinan kata dalam sebuah sajak, ketakutan kita terhadap murka Allah jika mendekati perbuatan nista dan dosa, yang telah berlalu lama, semua dapat dimunculkan dan dipanggil kembali dalam memori otak manusia.
Betapa hebat kemampuan yang dimiliki oleh otak manuasia, tetapi ini tergantung pada kemauaan manusia untuk  dapat menggali petensi yang dimiliki oleh otak dengan baik. Banyak potensi yang dimiliki oleh otak salah satu diantaranya adalah untuk mengingat. Daya ingat sangat bermanfaat bagi manusia hampir dalam seluruh aspek kehidupan. Daya ingat bermanfaat dalam segenap aktivitas atau kebiasaan yang dilakukan oleh manusia (habit memory), seperti berjalan, menulis, membaca, menyantap makanan dan lain-lain. Terlebih lagi daya ingat ini sangat bermanfaat dalam aktivitas belajar untuk menggapai pengetahuan (knowledge memory).
Ingatan manusia terdiri dari berbagai macam jenis, jenis-jenis ingatan seperti menurut Muhammad As-Saqa ‘Id (2008) terdiri dari:
1.       Ingatan langsung (immediate memory): ingatan yang bertalian erat dengan peristiwa yang terjadi dalam bilangan detik, jam atau hari;
2.       Ingatan jarak pendek (short term memory): menyimpan files-files peristiwa yang terjadi dalam jangka waktu tertentu;
3.       Ingatan jarak jauh (long term memory): memuat pengetahuan-pengetahuan tentang peristiwa penting yang terjadi dalam jarak waktu yang lama.
Ditinjau dari unsurnya, daya ingat terdiri dari: (1) belajar: yaitu suatu kegiatan mengingat gerakan atau informasi; (2) menalar: yaitu menerima informasi-informasi dalam otak untuk dihadirkan kembali sewaktu kita perlukan; (3) menyimpan: setelah tertanam dan diakui tingkat kepentingannya oleh otak akan disimpan dalam bentuk simbol-simbol; dan (4) lupa: yakni suatu keadaan dimana otak tidak lagi mampu untuk mengingat.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya ingat diantarannya kita mencoba untuk melakukan interaksi dengan daya ingat. Muhammad As-Saqa ‘Id (2008) merekomendasikan untuk mengadakan interaksi dengan daya ingat dalam bentuk 10 interaksi dengan ingatan: (1) Perhatian yang membangkitkan rasa ingin tahu (2) Pemilihan informasi; (3) Mengerahkan niat belajar; (4) Latar belakang pengetahuan dasar; (5) Sistematis dan dapat diekspresikan; (6) Penceritaan kembali; (7) Akses pada ingatan; (8) Latihan distribusi; (9) Ekspresi visual; dan (10) Penggabungan dan pengaitan.
Tentang uraian bentuk 10 interaksi dengan ingatan dapat lebih dijelaskan sebagai berikut:
1.       Perhatian yang membangkitkan rasa ingin tahu
Keingintahuan untuk  mempelajari suatu  materi merupakan motivasi utama yang dapat mempercepat penguasaan. Diantara yang dapat mendorong keingintahuan seseorang adalah  ketakjuban, salah satu contohnya ketakjuban terhadap keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Ketakjuban terhadap keindahan alam ini menyebabkan keingintahuan untuk mengungkap rahasia-rahasia alam semesta.
2.       Pemilihan informasi
Pemilihan informasi adalah dengan cara penyeleksian kata-kata yang harus dihafal, cara ini akan dapat mendorong tercapainya ingatan permanen dan mendalam.
3.       Mengerahkan niat belajar
Niatkan dalam hati keikhlasan untuk belajar demi tercapainya kapasitas pengetahuan yang  kita pelajari secara lebih optimal. Niat yang ditanamkan jauh di dalam hati akan memberikan dorongan energi yang luar biasa kuat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Apalagi niat ini disertai dengan keikhlasan yang tulus semata-mata ingin betul-betul mengharap ridho Allah Yang Maha Kuasa.
4.       Latar belakang pengetahuan dasar
Latar belakang dan pengetahuan dasar yang dimiliki oleh seseorang dapat juga meningkatkan efektivitas mendalami suatu ilmu pengetahuan. Hal ini diantaranya dapat dilakukan dengan cara sering membaca buku, majalah, koran akan menumbuhkan kekayaan pengetahuan dan kekayaan bahasa. Kekayaan pengetahuan dan kekayaan bahasa ini merupakan salah satu sarana transformasi ilmu.
5.       Sistematis dan dapat diekspresikan
Untuk menyusun informasi yang harus diingat. Menggerakkan susunan yang logis, mudah diingat dan mudah diekspresikan kembali atau dapat menggerakkan alternatif yang lain: dengan selalu membaca dan mengulangnya hingga hafal, dengan risiko bahwa metode ini sangat membosankan, melelahkan dan menghabiskan waktu namun kebanyakan orang melakukan metode ini.
6.       Penceritaan kembali
Penceritaan kembali merupakan cara tersukses untuk  proses transformasi pada ingatan, karena tindakan tersebut akan memperdalam ingatan dan membuat anda percaya terhadap penguasaan anda terhadap materi tertentu.
7.       Akses pada ingatan
Akses pada ingatan memerlukan waktu 4,15 detik. Agar sebuah informasi bisa sampai pada ingatan dengan aman, cepat dan kuat maka dapat dilakukan dengan metode penceritaan atau pencatatan informasi, segera setelah informasi tersebut diterima. Penceritaan kembali dapat kita lakukan dengann cara berdiskusi dengan mencoba mendesimnisikan pengetahuan atau informasi yang telah diteriam. Sedangakan pencatatan dapat dilakukan dengan cara menuliskan instisari pengetahhuan dan informasi yang telah kita terima misalnya dalam bentuk resume atau catatan singkat. Bahkan hal ini sejalan dengan pendapat sahabat Nabi yaitu Sayyidina Ali RA yang mengatakan: “Ikatlah ilmu itu dengan catatan”.
8.       Latihan distribusi
Dianjurkan dalam waktu tidak lebih dari 55 menit dengan istirahat selama 5 menit. Kelebihan metode ini diantaranya: (1) meminimalisir kelelahan fisik dan mental; (2) membuat motivasi untuk berbuat, karena pembagian kerjanya jelas dengan durasi yang singkat; (3) meminimalisir kebosanan  dalam mempelajari materi yang tidak disukai; (4)  jeda istirahat merukan kesempatan baik bagi otak untuk mamantapkan informasi yang telah diterima.
9.       Ekspresi visual
Informasi yang telah diterima daat disampaikan dalam bentuk ekspresi visual. Maka coba ubah masing-masing informasi tersebut dalam bentuk antara campuran kata dan gambar. Jika ini dilakukan maka ingatan kita akan lebih permanen disimpan dalam otak kita.
10.    Penggabungan dan pengaitan
Penggabungan dan pengaitan informasi yang diterima dapat memperkuat ingatan. Memperkuat koneksi antara informasi baru dengan informasi terlebih dahulu dalam ingatan. Informasi yang lebih dulu kita  terima dapat dikaitkan dan digabungkan dengan informasi selanjutnya yang kita terima, sehingga ini akan menjadi cara yang sangat efektif untuk lebih mempertajam daya ingat.
Kemampuan otak yang dimiliki oleh manusia tidak akan berarti apa-apa jika setiap potensi yang dimilikinya tidak dimanfaatkan dengan baik. Potensi yang dimiliki oleh otak diantaranya adalah ingatan. Daya ingat akan meningkat dan kinerjanya akan optimal jika kita memperlakukanya dengan baik. Meningkatkan kemampuan daya ingat merupakan salah cara paling efektif di dalam mencapai hasil belajar optimal yang dilakukan oleh siapapun di dalam suatu kegiatan belajar. Salah satu cara  atau prosedur untuk meningkatkan daya ingat diantaranya adalah: perhatian yang membangkitkan rasa ingin tahu, pemilihan informasi, mengerahkan niat belajar, latar belakang pengetahuan dasar, sistematis dan dapat diekspresikan,  penceritaan kembali, akses pada ingatan, latihan distribusi, ekspresi visual; dan penggabungan serta pengaitan. Selayaknya kita memelihara  setiap amanah yang diberikan oleh Allah SWT berupa petensi daya ingat yang dimiliki oleh otak dengan cara memanfaatkanya dengan maksimal. Ini semua dapat disikapi sebagai bukti syukur sebagai makhluk terhadap Allah SWT Yang Maha Pemurah.

*) Pengajar pada SMP N 2 Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya


0 comments:

BELAJAR DARI DA VINCI


BELAJAR DARI DA VINCI

Oleh: Dadang Hudan Dardiri,S.Pd.,M.Pd. *)



Da vinci memiliki nama lengkap Leonardo Da Vinci. Leonardo Da Vinci lahir pada tanggal 15 April 1452, di Provinsi Firenze Italia dan meninggal di Clos Luce, Peranci, 2 Mei 1519 dalam usia 67 Tahun. Da Vinci bagi masyarakat luas sering kali dihubungkan dengan karya lukis yang berjudul “Monalisa”. Lukisan yang masih tersimpan dengan baik di museum Louvre Paris Perancis ini merupakan salah satu karya dengan pencapaian terkuat pada masa renaissance. Disamping itu karya lain Da Vinci adalah “The Last Supper” (“Makan Malam Terakhir”). Bagi kalangan scientist siapa yang tak kenal dengan nama besarnya, dialah pembuatan skema anatomi yang mendetail dan rinci tentang struktur tubuh manusia dan menjadi salah acuan bagi bidang kedokteran pada masanya. Dalam bidang ilmu pengetahuan Leonardo Da Vinci dijuluki dengan sebutan “umo universale” yaitu orang yang memiliki banyak keahlian atau dikenal sebagai jenius universal, dia bukan hanya artist (seni lukis, seni patung), ahli arsitek, akhli matematika, akhli kedokteran, perancang desain produk, juru masak, perancang instrumen militer, fisikawan, bahkan dia juga seorang filosof.  Dipercaya perancangan pesawat helikopter juga sangat terinspirasi oleh hasil rancangan karya Leonardo Da Vinci.



Leonardo Da tercatat dalam salah satu 100 tokoh jenius di dunia. Da Vinci diposisikan pada urutan pertama satu-satunya tokoh  dengan pencapaian nilai IQ (intellegence quetion) 220. Lebih dari itu kesuksesan  Da Vinci bukan hanya bakat jeniusnya tetapi lebih karena banyak hal yang terkait yaitu sikap dan perilaku, pengembangan dan penggalian potensi yang sangat kompleks.
Michael J. Gelb (2001) melalui Taufiq Fasiak (2012: 171) merekonstruksi tahap kreatif yang dilakukan Da Vinci sehingga piawai dalam banyak bidang:
1.       Curiosita: rasa ingin tahu yang dalam.
2.       Demostrazion: menguji pengetahuan melalui pengalaman, ketekunan dan siap belajar dari kesalahan.
3.       Sensazione: penajaman indera yang terus menerus.
4.       Sfumato: kesediaan untuk menerima hal-hal yang tak pasti atau tampak bertentangan.
5.       Artel Scienza: mengembangkan keseimbangan ilmu pengetauan dan seni, logika dan imajinasi, ”otak kiri dan otak kanan”.
6.       Corporalita: pemupukan keunggulan, ketrampilan dua tangan, kebugaran dan sikap tubuh yang benar.
7.       Connessione: pengukuran dan penghargaan terhadap keterkaitan semua hal. Berfikir secara sistematis.
Curiosita artinya rasa ingin tahu yang dalam. Rasa ingin tahu merupakan awal dari terwujudnya ilmu pengetahuan. Untuk menjawab dan memuaskan “rasa ingin tahunya” ini manusia melakukan beberapa langkah atau tindakan yaitu dengan cara belajar, cara-cara memperoleh pengetahuan dengan belajar ini menempatkan manusia sebagai homo educandum.

Demostrazion: menguji pengetahuan melalui pengalaman, ketekunan dan siap belajar dari kesalahan. Pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang diketahui secara langsung dari pengelaman, berdasarkan panca indera, dan diolah akal secara spontan. Ketekunan adalah suatu prasyarat dalam mencapai keterampilan, baik keterampilan mengolah potensi kognitif, keterampilan mengolah dan mengeksplorasi potensi afektif dan rasa, dan keterampilan mengolah dan menajamkan potensi psikomotorik. Siap belajar dari kesalahan juga merupakan jembatan emas menuju keberhasilan dalam belajar. Dengan mempelajari kesalahan-kesalahan masa lalu terkait pendalaman ilmu pengetahuan kita akan belajar menghadapi dan memecahkan persoalan yang muncul secara lebih tepat dan lebih baik.






Sensazione: penajaman indera yang terus menerus. Indera merupakan alat yang dirancang oleh Allah SWT yang diperuntukkan spesial bagi manusia untuk mengobservasi dan mengenal lingkungan sekitar mereka. Penajaman indera sangat diperlukan untuk dapat merasakan sensasi yang lebih dalam di dalam menginterpretasi objek dan mengamati objek. Penajaman indera sehingga tercapai kepekaan dan sensitivitas indera yang optimal sangat penting dalam mendalami berbagai ilmu pengetahuan terlebih dalam bidang seni.

Sfumato: kesediaan untuk menerima hal-hal yang tak pasti atau tampak bertentangan. Kesediaan  menerima hal-hal yang pasti adalah suatu sikap menerima dan merspons hal-hal yang sudah pasti dan nyata tentang suatu kebenaran yang tentunya dilandasi dan didukung oleh pakta atau bukti-bukti yang betul-betul konkret dan tidak dapat terbantahkan. Sedangkan Kesedian menerima hal-hal yang tampak bertentangan dapat diartikan dengan prinsip-prinsip pemikiran dialektika. Dialektika adalah argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesa  atau putusan yang tidak pasti kebenarannya. Dapat disebutkan juga bahwa dialeltika adalah penyelesaian terhadap masalah atau problem berdasarkan tiga elemen yaitu tesa, anti tesa, dan sintesa. Tesa adalah suatu masalah sedangkan antitesa adalah suatu reaksi, tanggapan atau komentar kritis terhadap tesa. Dari dua elemen (tesa dan antitesa) tersebut diharapkan akan muncul sintesa, yaitu kesimpulan. Metode seperti ini bertujuan untuk mengembangkan proses berfikir yang dinamis dan memecahkan persoalan yang muncul karena adanya argumen yang kontrakdiktif atau saling bertentangan  sehingga dicapai kesepakatan yang berifat logis rasional.

Artel Scienza: mengembangkan keseimbangan ilmu pengetahuan dan seni, logika dan imajinasi, ”otak kiri dan otak kanan”. Perpaduan antara pengetahuan dan seni merupakan pendekatan dari manusia secara holistis di dalam merekonstruksi dan menghasilkan kebudayaan. Tetapi lebih dari itu Colin Mortlock menambahkan bahwa pantingnya perpaduan antara agama, seni dan ilmu pengetahuan, sehingga akan menghasilkan manusia yang paripurna.

Corporalita: pemupukan keunggulan, ketrampilan dua tangan, kebugaran dan sikap tubuh yang benar. Pemupukan keunggulan dapat dilakukan dengan penambahan informasi dan pengayaan (enrich) wawasan sehingga memperluas cakrawala pandang (frame of reference). Dorongan serta sokongan motivasi yang kuat berupa niat yang tulus dan tertanam dengan baik dalam perasaan juga diperlukan dalam pemupukan keunggulan. Metode unik yang dilakukan oleh Leonardo Da Vinci adalah penggunaan dua belah tangan, yaitu tangan kiri dan tangan kanan. Ini terbukti dalam bidang neoroscience dinyatakan bahwa penggunaan tangan kanan di fungsikan oleh otak bagian kiri dan penggunaan tangan kiri difungsikan oleh otak bagian kanan. Dengan penggunaan dua bagian otak kita (kanan dan kiri) itu artinya kita memfungsikan ke dua belah otak kita (otak kanan dan kiri), penggunaan dua bagian otak yakni otak kanan dan kiri kita secara bersamaam akan lebih mengoptimalkan kinerja otak kita. Kebugaran (physical fitness) ternyata dapat berpengaruh juga terhadap kecerdasan dan prestasi belajar seseorangan, hal ini dapat dibuktikan dengan penelitian yang lebih mendalam. Dalam keadaan sehat atau bugar maka seseorang akan lebih maksimal dalam menggali seluruh kemampuan yang dimiliki. Terkait dengan hal tersebut sikap tubuh yang baik bagi seseorang juga mungkin berpengaruh terhadap fisiologis dan kesehatan seseorangan.




Connessione: pengukuran dan penghargaan terhadap keterkaitan semua hal dan berfikir secara sistematis. Seperti menurut Maufur (2008) melalui Susanto (2014) sistematis merupakan salah satu syarat yang perlu dipenuhi oleh suatu pengetahuan. Selanjutnya Susanto (2014: 44) menyatakan bahwa sistematis, “yakni urutan dari awal hingga akhir, dan ada hubungan bermakna antara bagian-bagian atau fakta satu dengan fakta yang lainnya yang tersusun secara runtut”.



Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita dapat mempelajari dan memetik hikmah dari pengalaman belajar yang telah dilalui oleh Leonardo Da vinci. Metode belajar yang telah dilalui oleh Leonardo Da Vinci dapat dijadikan salah satu alternatif metode atau teknik belajar bagi siapa saja yang ingin meningkatkan potensi dirinya, sehingga dapat dicapai kemampuan yang lebih optimal.






*) Pengajar pada SMP N 2 Sukaratu Kabupaten Tasik

0 comments: